Minggu, 21 Juni 2026

Dana Abadi Penelitian Tembus Rp 13 Triliun

Nilai Manfaat Rp 500 Miliar Per Tahun untuk Peneliti

Berita Terkait

Ilustrasi dana LPDP. (Antara)

batampos – Dana abadi yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) semakin menggelembung. Saat ini nilai pokok dana abadi di LPDP telah mencapai Rp 140 miliar. Sebagian besar untuk pendanaan pendidikan. Sebagian lagi untuk dana abadi penelitian, termasuk pembiayaan proyek riset dan inovasi.

Perkembangan pengelolaan dana abadi itu disampaikan Direktur Riset LPDP Wisnu Sardjono Soenarso di Kebun Raya Cibinong, Kabupaten Bogor kemarin (22/5). Dia menjelaskan ada empat dana abadi yang dikelola oleh LPDP. Yaitu dana abadi pendidikan, dana abadi kebudayaan, dana abadi penelitian, dan dana abadi perguruan tinggi.

’’Kita kelola dana abadi penelitian sekitar Rp 13 triliun. Ini dana pokoknya,’’ katanya.

Dari dana pokok tersebut, setiap tahun dihasilkan nilai manfaat sekitar RP 400 miliar sampai Rp 500 miliar. Nilai manfaat itu tergantung dengan performa investasi yang dijalankan oleh LPDP.

Wisnu menuturkan LDPD hanya mengelola uang pokok dana abadi penelitian saja. Sementara untuk nilai manfaat atau hasil investasinya langsung disalurkan ke BRIN untuk mengelolanya. Dana tersebut diantaranya digunakan untuk pembiayaan riset yang bersifat kompetisi.

’’Jadi peneliti tidak mengajukan pendanaan risetnya ke LPDP. Tetapi ke BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional, Red),’’ katanya. Jadi seluruh kegiatan penelitian, baik itu dari internal BRIN, kampus, perusahaan swasta, maupun masyarakat umum, usulannya masuk ke BRIN terlebih dahulu. Setelah itu diseleksi oleh BRIN dan yang lolos akan mendapatkan pendanaan riset yang bersumber dari dana abadi penelitian.

Lebih lanjut Wisnu menuturkan salah satu program pendanaan riset yang didanai dari dana abadi penelitian adalah Riset Inovasi Indonesia Maju (RIIM). Setiap tahun dibuka beberapa gelombang pengajuan pendanaan riset dalam program RIIM tersebut. Selain itu juga ada pendanaan riset kategori ekspedisi. Baik itu ekspedisi di daratan maupun di lautan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan target dana abadi penelitian yang dicanangkan pemerintah mencapai Rp 100 triliun. ’’Sekarang masih jauh. Setiap tahun pokoknya ditambah,’’ tuturnya. Dengan semakin besarnya pokok dana abadi penelitian, diharapkan nilai manfaat atau hasil investasi setiap tahunnya bisa ikut naik.

Handoko menegaskan secara akumulasi, tahun ini diharapkan kucuran hasil investasi dana abadi penelitian untuk kegiatan riset bisa mencapai Rp 1 triliun. Dia mengatakan skema pendanaan riset yang ada di BRIN bersifat terbuka dan kompetisi.

Dia menceritakan sempat menerima keluhan dari peneliti BRIN, karena sering tidak lolos. Sebaliknya banyak usulan kegiatan riset oleh kampus atau perguruan tinggi, yang lolos. Menurut Handoko, kondisi tersebut murni dari hasil seleksi pengajuan proposal yang masuk. Jika proposal dari internal BRIN tidak lolos, berarti memang kalah bersaing dengan usulan dari peruguran tinggi atau kampus.

Mantan kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mengatakan tidak ada tema khusus terkait pengajuan penelitian atau riset untuk didanai dari LPDP itu. Secara umum hanya dibagi berdasarkan karakter aktivitas penelitiannya. Misalnya ada kegiatan RIIM untuk ekspedisi Papua, Wallace, Borneo, dan Indonesia Barat. ’’Jadi berdasarkan lokus atau lokasi penelitiannya,’’ katanya.

Handoko mengatakan saat ini ada beberapa penelitian yang terus dikebut. Diantaranya adalah penelitian untuk memperoleh vaksin penyakit malaria. Dia mengatakan malaria adalah penyakit endemik Indonesia. Tetapi sampai saat ini belum ada vaksinnya.

’’Saya tidak bisa mengatakan sudah seberapa jauh dan targetnya kapan,’’ katanya. Yang jelas dia mengatakan untuk penyakit-penyakit yang endemik, sudah harus diupayakan vaksinya. Selain malaria, juga ada penyakit TB dan demam berdarah atau Dengue. Handoko menegaskan jangan sampai untuk vaksin malaria misalnya, keduluan negara lain. Sampai akhirnya Indonesia harus membeli vaksinnya dari negara lain itu. (*)

Reporter: JP Group

Update